Kamis, 29 Maret 2012

Sisi Positif Tradisi Haul Dalam Masyarakat Islam

        Kegiatan Haul adalah sebuah istilah yang identik dengan kata-katan peringatan tahunan atas meninggalnya seseorang, biasanya kegiatan ini diperingati dalam rangka mengenang seorang yang di sepuhkan pada sebuah komunitas warga masyarakat yang notabene Nahdliyyin, akan tetapi perkembangan berikutnya Haul juga kadang diperingati oleh sekelompok kecil, atau bahkan dalamlingkup keluarga, misalnya saja memperingati haul wafat orang tua atau saudara. Dalam kegiatan Haul biasanya diisi dengan kegiatan berziarah ke makam shohibul haul (yang diperingati), dzikir, membaca tahlil dan berdoa untuk shohibul haul, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan ceramah atau mauidzoh atau hanya sekedar dzikir wat tahlil dan doa saja. Pada mulanya istilah haul hanya dihususkan untuk memperingati wafatnya figur-figur tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakatnya tertentu, atau bahkan lebih tepatnya biasanya dilakukan di pesantren-pesantren. Selain bertujuan mendo’akan shohibul haul, peringatan haul ini juga mengandung sisi positif dan sarat dengan manfaat bagi masyarakat umum dan generasi penerus para kyai.

       Seperti halnya di Desa Karangkancana, khususnya di Pesantren Bani Sanjur Gunungjawa, kegiatan Haulselalu dilaksanakan pada setiap tahunnya. Hal ini tidak lepas dari rasa penghormatan atas jasa-jasa para pendiri Pesantren yang berjuang sejak awal tanpa pamrih, keikhlasan mereka masih dapat dirasakan oleh para penerusnya, sehingga kegiatan ini dianggap sangat perlu dilakukan, 
Beberpa manfaat dan sisi positif kegiatan Haul diantaranya:
  • Meneguhkan perasaan hormat santri khususnya dan masyarakat sekitarnya pada umunya kepada peran dari shohibul haul semasa hidupnya. Pada konteks ini, terutama bagi para santri yang ada di sebuah Pesantren, bahwa menghadiri houlnya kyai sama artinya dengan meneguhkan silsilah atau mata rantai keilmuan.
  • Sebagai ajang silaturrahim bagi santri dan para alumni juga dengan masyarakat setempat. Sehingga masing-masing komunitas yang hadir pada kegiatan tersebut terutama para alumnus bisa saling shering dan tukar pengalaman dalam hal perjuangannya selama menyebarkan ilmu di daerahnya masing-masing, serta pada masyarakat pada umumnya dapat menjadi sebuah feed back dan evaluasi diri buat pesantren yang bersankutan.
  • Mempererat hubungan batiniah yang sangat diperlukan sebagai upaya mempertahankan karakteristik  pesantren, juga menjadi alat untuk mempererat hubungan ruhhiyah antar alumni dan antara alumni dengan wakil-wakil kyai di daerahnya masing-masing, yang umumnya keberadaan wakil atau penggantinya yang ada di pesantren adalah putra-putra kyai sendiri atau kerabat dekatnya.
  • Eksistensi keteladanan. Pada setiap acara haul, seperti dilaksanakan di Pesantren Gunungjawa sebetulnya secara tersirat mengingatkan kembali kepada figur dan prestasi yang telah dicapai oleh shohibul haul pada masa lalu yang bisa dijadikan acuan keteladanan bagi generasi-generasi berikutnya dalam menyebarkan risalah Islam di daerah masing-masing.
  • Sebagai media da’wah baik itu kepada masyarakat umum maupun pembekalan bagi santri dan alumni. Hal ini tercermin dari rangkaian acara peringatan haul itu sendiri, Di Pesantren Gunungjawa sendiri kegiatan diisi dengan mauidzoh hasanah, dimana isinya jelas yaitu, selain menceritakan kembali perjuangan dan kebaikan shohibul haul denan segala keistmewaan-keistimewaanya dengan tujuan agar dari mauidzah hasanah tersebut dapat diteladani oleh para santri dan alumni pesantren, juga disampaikan risalah amar ma’ruf nahi munkar dan pembekalan bagi generasi masyarakat terutama generasi muda dalam meneruskan estavet da’wah para kyai sepuh.
Eksistensi Peringatan haul ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, sejak dulu sampai masa sekarang. Meskipun pada awalnya kegiatan Haul hanya dilaksanakan dan di peringati dengan sangat sederhana, tetapi seiring dengan perkembanan jaman pada akhirnya sekarang kegiatan tersebut sudah sangat jauh berkembang, dilakukan dengan sangat meriah, tetapi tujuan dan arti pentingnya tetap sama, yaitu seperti tersebut diatas. Istilah haul ini di ambil oleh para ulama dari dalam sebuah hadits riwayat Baihaqi dalam Syarhus Shudur disebutkan, bahwa Rasulullah saw setiap setahun sekali berziarah ke makam para syuhada’ perang Uhud, kemudian Abu Bakar, Umar bin Khotthob dan Utsman bin ‘Affan juga melakukan itu.

عن الواقد قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزور الشهداء بأحد فى كل حول, وإذا بلغ الشعب رفع صوته فيقول سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار ثم ابو بكر رضي الله عنه كل حول يفعل مثل ذلك ثم عمر ابن الخطاب ثم عثمان ابن عفان رضي الله عنهما. أخرجه البيهقى

Dari al-Waqidi, ia berkata, Rasulullah saw pada setiap setahun sekali berziarah kemakam para shuhada’ perang uhud, dan ketika beliau sampai di Sya’b, beliau berkata dengan keras “Salamun ‘alaikum bimaa shobartum fa ni’ma ‘uqbad dar. Abu Bakar ra. juga melakukan seperti itu setiap tahun, demikian juga Umar bin Khothob ra. dan Utsman bin Affan ra. 
Wallohu a’lam bisshowab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar